Dia bukan perempuan yang melahirkanku. Tapi dialah yang mendidikku dengan nilai-nilai kehidupan lewat cerita pengalaman hidupnya. Tiba-tiba hari ini entah mengapa di kepala terputar kembali ceritanya yang telah lama membeku itu.

Gambar wajah Mama muncul bak film enam dimensi di hadapanku. Dia bertutur seperti waktu itu. Kulitnya putih kemerahan, rambutnya keriting kecil-kecil kecoklatan tergulung rapi dengan tusuk rambut merah marun. Lensa matanya kecoklatan. Ini beda dengan Oma Lin yang bermata biru, isyarat dia blasteran asing dan pribumi.

Mamaku. Kantung matanya sudah berkerut tapi wajahnya tetap ayu meski lama tak tersapu bedak. Di ingatanku sekarang, dia duduk menatap sayu. Katanya,” Ci, Mama hanya ingin kau tahu bahwa keinginan dan cita-citamu juga keinginan dan cita-cita Mama. Tapi apa daya. Mama sekarang tak kuasa lagi.

Mama menghela nafas sebentar. Waktu itu Mama masih semester dua di kampus. Semangat Mama menamatkan sarjana dan berkarir seperti yang lain tak pernah surut. Tapi ada hari di kala itu saat hati Mama seperti disambar petir. Papanya Mama menjodohkannya dengan seorang muda tamatan akademi militer tahun 1962. Dia blasteran ningrat Jawa dan Belanda.

Kali ini Mama mulai sesenggukan. Kisahnya seperti film yang menghidupkan kenangan pahit.

Lalu ia lanjut bercerita,

“ seperti adat keluarga, jika menikah harus total mengabdi ke suami dan berhenti sekolah. Mama tak bisa menolak itu. Akhirnya Mama menikah. Suatu hari di minggu-minggu awal pernikahan, setelah Papa berangkat ngantor, Mama keluar dan naik bus keliling Jakarta tanpa tujuan yang jelas. Dalam benak Mama yang penting aku bisa menangis untuk melepas beban hati.

Ya, Mama ingin sekolah lagi. Pernah mama mengungkapkan keinginan itu pada Papa. Tapi papa hanya tersenyum dan mempersilakan mama untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini. Ketika melihat buah hati yang lagi lucu-lucunya, tak terpungkiri hati seorang ibu yang ingin anaknya tumbuh tanpa sedikitpun terputus kasih sayang ibunya.

Akhirnya Mama benarkan keinginan papa secara tidak langsung. Mama putuskan jadi ibu yang sukses saja. Itu impian Mama, Ci.”

Sampai di situ, mama sekonyong-konyong meredup dari pandangan. Ah, aku tersentak dan tertegun sesaat. Ma, kakayu membatin, kan kuwujudkan mimpi-mimpimu untuk tamat kuliah dan menjadi ibu yang sukses.

Doakan aku, Ma.

Semoga ceritanya menginspirasi :).

Siti Asriyah

Contributor SmartMomCommunity