Gaya hidup minimalist adalah salah satu yang sedang tren beberapa tahun belakangan ini. Bersamaan dengan kemunculan influencer yang sudah terlebih dahulu menjalani gaya hidup minimalist lalu membagikan pengalaman dan ilmunya melalui kanal Youtube pribadi mereka. Kini, minimalist lifestyle bukan lagi hal baru, meskipun masih ada salah persepsi sebagian masyarakat pada tren gaya hidup minimalist. 

 

Banyak orang mengira bahwa minimalist hanya seputar hemat, tidak beli-beli, bahkan ada yang mengira minimalist adalah membuang barang-barang yang dimiliki. Padahal, berhemat, menahan diri untuk tidak berbelanja, dan melepas sebagian barang dilakukan atas dasar value dan tujuan untuk hidup lebih baik. 

 

Saat akan membeli sebuah barang, seorang minimalist akan berpikir berkai-kali sebelum membeli alias mindful alih-alih impulsif dalam checkout keranjang belanjaan. Salah satu hal yang bisa Moms pikirkan sebelum membeli barang, jika kamu ingin menjadi minimalist, adalah pikirkan bahwa barang-barang yang ada di sekitarmu tadinya adalah uang. Uang yang jika kamu bisa sedikit menahan diri, uang itu bisa digunakan untuk hal lain yang lebih valuable. 

 

Menjadi minimalist bukan berarti kita tidak boleh belanja sama sekali. Shopping ala minimalist mengajarkan kita tentang intentional shopping yaitu berbelanja dengan tujuan. Apa aja sih yang perlu kita pahami mengenai intentional shopping, simak ulasan berikut ini..

 

  • Buyerarchy of Needs

Adalah sebuah piramida yang harus kita lalui sebelum membeli sebuah barang. Misalnya kita ingin membeli sebuah gaun untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga dekat. Periksa dan perhatikan kembali setiap tingkatannya sebelum membeli, yaitu use what you have, borrow, swap, thrifting, make, baru masuk ke tingkatan buy jika tingkatan sebelumnya tidak bisa menjadi jawaban atas kebutuhanmu. 

 

  • Indirect Cost

Bukan sekedar biaya yang harus kita keluarkan untuk membeli sebuah barang. Cost juga merujuk pada energi yang kita habiskan untuk berbelanja, waktu yang kita luangkan, dan space di rumah yang akan dipakai untuk menyimpan barang. Jika kita bertindak dengan mindful dan hati-hati, maka kita akan memiliki opportunity cost yang bisa dipakai untuk hal valuable lain, seperti groceries, membayar utang/cicilan, jalan-jalan, dan mencoba hal baru lainnya. Ingat ya Moms, sebagai manusia we cannot have everything, kita harus bisa memilih salah satu. 

 

  • Wishlist

Wishlist bisa ditulis kapanpun saat kita merasa butuh sesuatu, namun tidak berarti harus dibeli sesegera mungkin. Beri waktu pada diri sendiri untuk berpikir beberapa hari, setelah beberapa hari ada dua kemungkinan yang akan terjadi, melupakan begitu saja atau merasa benar-benar membutuhkan. Jika dirasa benar-benar butuh maka tidak masalah untuk membeli tentunya setelah melewati tahapan di buyerarchy of needs tadi ya. 


Sembari menulis wishlist dan berpikir, tuliskan juga nama benda yang ingin dibeli, budget, value benda tersebut meliputi fungsi dan alasan kenapa harus membeli. 

 

  • Reseacrh 

Lakukan reseacrh kecil-kecilan pada barang yang akan kamu beli. Meliputi, value, memilih harga yang paling kompetitif, brand atau company di balik produk tersebut (berasal dari negara mana, usahakan memilih produk lokal), material yang digunakan apakah ramah lingkungan, dan apa yang bisa dilakukan pada barang ini setelah tidak berfungsi lagi. Hal terakhir bertujuan untuk mengurangi limbah sampah barang.

 

  • No Shopping Habit

Tantang dirimu untuk tidak belanja dalam kurun waktu tertentu, misalnya dalam seminggu, sebulan, dan beberapa bulan. Kita akan merasa lebih lega jika berhasil tidak belanja dalam kurun waktu tertentu karena menikmati value lain yang bisa didapat dari uang yang tadinya dianggarkan untuk beli-beli.

 

Moms, shopping ala minimalist adalah proses yang mengajarkan diri kita menjadi lebih kritis, jujur pada diri sendiri, dan mindful sebelum bertindak. Gimana, tertarik untuk shopping ala minimalist?