Belakangan instilah inner child sedang banyak dibicarakan, terutama oleh milenials yang sedang berproses menjadi seorang dewasa seutuhnya. Innerchild adalah sosok kecil yang ada pada diri kita yang muncul saat kita masih kecil, namun ada pula yang tanpa kita sadari terbawa hingga dewasa. Inner child akan muncul sebagai kebiasaan-kebiasaan yang sering kita lakukan, misalnya seorang perfeksionis bisa jadi karena ia selalu dituntut sempurna oleh guru atau orang tuanya dalam hal akademis. Sisi positifnya dia akan teliti dalam bekerja dan berorientasi pada hasil yang sempurna, sisi negatifnya dia akan mudah kecewa dan sedih saat mengalami kegagalan. 

Melanjutkan contoh inner child di atas, jika pada masa kecil kita dituntut selalu sempurna misalnya dalam hal akademik kemudian suatu hari kita mengalami kegagalan dan orang di sekitar mengucapkan kalimat-kalimat yang berkedok penyemangat seperti “Kamu nggak boleh nangis ya, jangan sedih” nyatanya kalimat tersebut justru hanya akan membuat kita hanya me-repress perasaan kita. Kita akan menahan sekuat tenaga agar tidak bersedih, tapi apa jadinya saat dewasa nanti kalau kita terus me-repress perasaan kita untuk tidak bersedih? 

 Yang akan terjadi saat kita dewasa adalah kita akan mengalami kesulitan untuk melakukan rekoneksi dengan diri kita sendiri. Kita akan terbiasa memendam perasaan yang akibatnya bisa badmood nggak jelas seharian, karena kita tidak terbiasa menangis mengekspresikan kesedihan. Rekoneksi adalah proses melepaskan emosi yang selama ini kita repress. Maka, bisa dibilang point terpenting dalam proses rekoneksi adalah menyadari bahwa diri ini butuh menangis dan butuh melepas emosi. 

 Lalu, apa sih yang harus kita lakukan dalam menghadapi sosok kecil atau inner child? Simak yuk..

1. Menerima

Dengan menerima kenyataan di masa lalu artinya kita sudah memaafkan diri kita yang tidak sempurna di masa lalu. Biarkan dan beri waktu pada diri kita untuk merasakan marah dan sedih. 

2. Memahami Kebutuhan Kita

Setelah menyadari dan menerima kenyataan di masa lalu, kini saatnya untuk memahami apa sih yang kita butuhkan. Misalnya, seseorang yang di masa lalu pernah merasa dikecewakan oleh orang lain tapi tetap berusaha tegar seolah tidak terjadi apa-apa. Saat tumbuh dewasa ia akan menjadi orang yang kerap bermasalah dengan interpersonal skill (hubungan dengan orang lain). 

Awalnya mungkin sebatas merasa tidak cocok pada seseorang, menganggap orang lain sebagau toxic, dan berusaha menghindar, ketika sudah berhasil menjaga jarak dan tidak lagi berhubungan. Tapi, masalah kembali muncul saat bertemu dengan orang yang lain lagi, kembali merasa tidak cocok dan tidak nyaman. Masalah interpersonal tidak kunjung berakhir. 

Coba selidiki dengan cara flashback, apakah pernah mengalami penolakan dari lingkungan. Maka sadarilah bahwa kita punya kebutuhan untuk diterima.

3. Meningkatkan Self-care

Moms sudah bisa menerima kenyataan bahwa ada inner child yang mengikutimu tumbuh hingga dewasa, lalu menyadari apa yang menjadi kebutuhanmu tapi belum menemukan solusinya, maka lakukanlah self care. Saat mengalami masalah biasanya sisi inner child kita akan keluar dan kalau Moms tidak tahu harus bagaimana, take your time untuk istirahat, weekend therapy, dan lakukan self care. Sayangi dirimu sebelum kamu menyayangi orang lain. 

 

4. Meningkatkan Kreativitas

Saat mulai menyadari sisi inner child kita, kadang kita akan menjadi bingung harus bagaimana. Langkah pertama, Moms bisa mengunjungi psikolog untuk berkonsultasi. Selanjutnya carilah kegiatan-kegiatan yang bisa mengakomodasi inner child mu. 

5. Menghargai Diri Sendiri

Cobalah untuk dealing dengan diri sendiri. Katakan pada diri sendiri bahwa diri kita berharga, kita bisa melewati sendiri, kita loveable. It’s okay not to be okay, karena kunci kehidupan adalah rela merasa tidak nyaman untuk hidup yang lebih nyaman di sisa hidup. 

Moms, menemukan inner child memerlukan stimulus dengan cara flashback serta berkomunikasi dengan diri sendiri di masa lalu. Bisa dilakukan saat Moms punya waktu untuk menyendiri. Selain itu, perjalanan menemukan innerchild membutuhkan kesiapan mental terutama dalam menerima kenyataannya. Good luck!